
Pindah ke kota baru untuk kuliah atau bekerja selalu membawa pengalaman yang berbeda. Begitu juga ketika kamu pertama kali tinggal di Surabaya.
Buat yang sebelumnya tinggal di kota atau daerah dengan kebiasaan yang berbeda, beberapa hal di Surabaya mungkin terasa cukup mengejutkan. Mulai dari cara orang berbicara, makanan yang cenderung punya rasa kuat, sampai cuaca yang panasnya bisa membuatmu perlu beradaptasi.
Hal-hal seperti ini sebenarnya wajar. Namanya juga tinggal di tempat baru, pasti ada kebiasaan yang perlu disesuaikan.
Kalau kamu berencana menjadi anak rantau di Surabaya, berikut beberapa hal yang mungkin akan kamu alami.
1. Cara Bicara yang Terdengar “Keras”
Salah satu hal yang paling sering diperhatikan pendatang adalah cara orang Surabaya berbicara.
Logat dan intonasinya bisa terdengar lebih tegas atau keras bagi orang yang berasal dari daerah dengan gaya bicara lebih lembut.
Apalagi ketika mendengar percakapan dengan bahasa Jawa khas Surabaya yang menggunakan kata-kata seperti “rek”, “cak”, atau “seh”.
Awalnya mungkin terdengar seperti sedang marah. Padahal, belum tentu.
Seiring waktu, kamu akan mulai terbiasa dan memahami bahwa intonasi bicara tidak selalu menunjukkan emosi seseorang.
2. Bahasa Jawa yang Belum Tentu Kamu Pahami
Kalau kamu bukan berasal dari Jawa Timur, beberapa percakapan sehari-hari mungkin terdengar cukup membingungkan.
Kamu mungkin sudah memahami bahasa Indonesia dengan baik, tetapi ketika teman mulai menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan, kamu bisa tiba-tiba kehilangan konteks.
Tidak perlu malu untuk bertanya arti sebuah kata. Justru, lama-kelamaan kamu akan mulai memahami kosakata yang sering digunakan sehari-hari.
Dan tanpa sadar, beberapa kata tersebut mungkin ikut masuk ke dalam gaya bicaramu.
3. Cuaca Surabaya yang Panas
Ini mungkin salah satu hal yang paling cepat dirasakan oleh anak rantau.
Surabaya dikenal memiliki cuaca yang panas, terutama ketika matahari sedang terik. Bagi orang yang berasal dari daerah dengan udara lebih sejuk, beberapa minggu pertama bisa terasa cukup menantang.
Karena itu, kamu mungkin perlu menyesuaikan kebiasaan sehari-hari.
Membawa botol minum, menggunakan pakaian yang nyaman, memilih waktu yang tepat untuk beraktivitas di luar, dan memastikan kamar memiliki sirkulasi udara yang baik bisa membuat proses adaptasi lebih nyaman.
4. Makanan dengan Rasa yang Berani
Surabaya dan Jawa Timur memiliki banyak pilihan makanan dengan karakter rasa yang kuat.
Sambal, makanan pedas, gurih, hingga makanan dengan bumbu yang cukup tajam mungkin terasa berbeda dari makanan yang biasa kamu makan di rumah.
Kalau kamu bukan penggemar makanan pedas, jangan khawatir. Surabaya punya banyak pilihan makanan dengan tingkat kepedasan dan jenis masakan yang beragam.
Justru, tinggal di kota baru bisa menjadi kesempatan untuk mencoba makanan yang sebelumnya belum pernah kamu temui.
5. Kota yang Ramai dan Banyak Aktivitas
Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Surabaya punya aktivitas yang cukup dinamis.
Ada area perkantoran, kampus, pusat perbelanjaan, tempat makan, ruang publik, hingga berbagai komunitas dan event.
Bagi anak rantau, awalnya mungkin terasa sedikit overwhelming karena ada banyak hal yang bisa dilakukan.
Setelah mulai mengenal lingkungan sekitar, kamu akan lebih mudah menemukan tempat yang sesuai dengan rutinitasmu, baik untuk belajar, bekerja, olahraga, maupun sekadar nongkrong.
6. Gaya Hidup yang Bisa Berbeda dari Kota Asal
Tinggal sendiri membuat kamu punya lebih banyak kebebasan dalam menentukan rutinitas.
Kapan mau makan, kapan mencuci pakaian, kapan belajar, sampai bagaimana menghabiskan akhir pekan semuanya menjadi tanggung jawabmu sendiri.
Di sisi lain, kebebasan ini juga berarti kamu perlu belajar mengatur waktu dan pengeluaran.
Awalnya mungkin terasa menyenangkan karena tidak ada yang mengingatkan. Lama-kelamaan, kamu akan menyadari bahwa kebebasan juga datang bersama tanggung jawab.
7. Harus Belajar Menemukan “Tempat Andalan”
Ketika pertama kali pindah, semuanya terasa asing.
Kamu mungkin belum tahu laundry terdekat, tempat makan murah, minimarket terdekat, klinik, tempat olahraga, atau tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas.
Karena itu, salah satu bagian dari proses beradaptasi adalah mulai menemukan tempat-tempat andalanmu sendiri.
Setelah beberapa bulan, kamu biasanya sudah punya “versi Surabaya” milikmu sendiri:
laundry langganan, tempat makan favorit, coffee shop untuk nugas, sampai rute tercepat menuju kampus atau kantor.
8. Mulai Merindukan Rumah
Ini bagian yang mungkin tidak langsung terasa di awal.
Minggu-minggu pertama mungkin justru terasa menyenangkan karena semuanya baru. Tetapi setelah rutinitas mulai berjalan, kamu bisa tiba-tiba merindukan makanan rumah, keluarga, teman-teman lama, atau sekadar suasana kamar di rumah.
Homesick adalah hal yang wajar dialami ketika tinggal jauh dari rumah.
Kamu bisa mengatasinya dengan tetap menjaga komunikasi dengan keluarga, membuat rutinitas yang menyenangkan, dan membangun lingkungan sosial baru di tempat tinggalmu.
Tidak harus langsung merasa “betah”. Beradaptasi memang membutuhkan waktu.
Baca juga: 5 Hal yang Wajib Disiapkan Sebelum Merantau
Surabaya Akan Terasa Berbeda Setelah Kamu Mulai Terbiasa
Pindah ke Surabaya sebagai anak rantau mungkin terasa asing pada awalnya.
Kamu mungkin perlu membiasakan diri dengan bahasa, cuaca, makanan, lingkungan, hingga rutinitas yang sepenuhnya berbeda dari rumah.
Namun, justru dari proses tersebut kamu akan belajar banyak hal tentang hidup mandiri.
Pelan-pelan, jalan yang awalnya asing mulai terasa familiar. Tempat makan yang awalnya coba-coba menjadi langganan. Lingkungan yang awalnya terasa asing mulai terasa seperti rumah.
Dan suatu hari nanti, kamu mungkin akan menyadari bahwa Surabaya bukan lagi sekadar kota tempat kamu kuliah atau bekerja, tetapi sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupmu.
Jadi, kalau kamu baru akan merantau ke Surabaya, tidak perlu berharap langsung merasa nyaman sejak hari pertama.
Beri dirimu waktu untuk beradaptasi, kenali lingkungan sekitar, dan nikmati proses menemukan rumah keduamu.
Proudly powered by WordPress
