Kenapa Anak Kos Sering Menunda Cuci Baju? Ini Alasannya!

Baju kotor sudah mulai memenuhi keranjang. Tapi setiap kali melihatnya, responsnya selalu sama: “Nanti aja, masih ada yang bersih.” Sampai akhirnya, satu kaus terakhir ikut masuk keranjang cucian dan baru sadar kalau ternyata hampir semua baju sudah kotor. Kalau kamu anak kos, kemungkinan besar situasi ini nggak asing.

Menunda mencuci baju sering dianggap sebagai masalah malas atau nggak disiplin. Padahal, ada beberapa alasan psikologis dan kebiasaan sehari-hari yang membuat pekerjaan sederhana seperti laundry terasa lebih berat daripada yang sebenarnya.

Bukan Cuma Malas, Tapi Karena Terasa Merepotkan

Mencuci baju bukan sekadar memasukkan pakaian ke mesin cuci. Ada beberapa langkah yang harus dilakukan: memilah pakaian, memasukkan ke mesin, menunggu, menjemur, mengangkat ketika sudah kering, lalu melipat dan menyimpannya kembali. Semakin banyak tahap yang terlihat di kepala, semakin besar kemungkinan kita memilih untuk menundanya.

Ini berkaitan dengan procrastination, yaitu kecenderungan menunda sesuatu meskipun kita tahu tugas tersebut tetap harus dikerjakan. Menariknya, procrastination tidak selalu terjadi karena seseorang malas. Kita juga bisa menunda pekerjaan karena tugas tersebut terasa membosankan, merepotkan, atau membutuhkan energi untuk memulainya.

Masalahnya, laundry adalah salah satu pekerjaan yang terus menghasilkan “tagihan”. Hari ini tidak mencuci, besok ada pakaian baru. Akhirnya, keranjang yang awalnya hanya berisi beberapa potong berubah menjadi satu gunung cucian yang membuat kita semakin malas memulainya.

Semakin Banyak Pilihan, Semakin Berat Memulai

“Yang putih dicuci dulu atau yang warna?”

“Ini bisa dicampur nggak?”

“Pakai mode apa?”

“Dijemur sekarang atau nanti?”

Hal-hal kecil seperti ini mungkin terdengar sepele, tetapi keputusan yang terus muncul sepanjang hari bisa membuat kita mengalami decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Setelah seharian kuliah, mengerjakan tugas, bekerja, atau beraktivitas, memilih program laundry saja bisa terasa seperti pekerjaan tambahan.

Itulah kenapa pekerjaan rumah yang sebenarnya sederhana bisa terasa jauh lebih berat ketika dilakukan setelah hari yang panjang. Bukan karena mencuci membutuhkan tenaga luar biasa, tetapi karena kita sudah menghabiskan energi untuk banyak hal lain.

Ada Juga Masalah “Nanggung”

Pernah nggak kamu menunda mencuci karena merasa cucianmu belum cukup banyak?

Ini juga cukup umum terjadi. Kita cenderung merasa lebih efisien kalau sekali mencuci bisa langsung banyak. Akibatnya, menunggu pakaian “cukup banyak” justru membuat cucian terus bertambah sampai akhirnya terasa overwhelming.

Di titik ini, masalahnya bukan lagi “cuma beberapa baju”. Kita melihat satu keranjang penuh dan langsung merasa, “Waduh, banyak banget.”

Padahal, kalau dilakukan secara rutin, jumlahnya mungkin tidak akan pernah sampai sebanyak itu.

Anak Kos Punya Banyak Hal Lain yang Harus Dipikirkan

Kehidupan anak kos bukan cuma kuliah lalu pulang tidur. Ada tugas, organisasi, pekerjaan part-time, kegiatan kampus, urusan keuangan, makan, bersih-bersih kamar, sampai kehidupan sosial. Laundry akhirnya sering masuk ke daftar pekerjaan yang dianggap bisa dilakukan nanti.

Dan “nanti” punya kebiasaan buruk: terus bergeser.

Hari Senin sibuk, Selasa masih ada tugas, Rabu sudah terlalu capek, Kamis lupa, Jumat mau istirahat. Tahu-tahu sudah akhir minggu dan isi lemari tinggal beberapa pakaian.

Karena itu, salah satu cara paling efektif mengatasi kebiasaan menunda adalah mengurangi sebanyak mungkin hambatan untuk memulainya.

Baca juga: 5 Hal yang Wajib Disiapkan Sebelum Merantau

Solusinya? Bikin Laundry Semudah Mungkin

Kalau sebuah pekerjaan terasa merepotkan, salah satu cara mengatasinya adalah mengurangi jumlah langkah yang harus dilakukan.

Misalnya, daripada menunggu cucian menumpuk dan menghabiskan waktu untuk mencuci, menjemur, mengangkat, sampai melipat semuanya sendiri, kamu bisa menggunakan layanan laundry.

Buat penghuni Olympia Kos, urusan ini bahkan nggak perlu keluar kompleks atau mencari laundry jauh-jauh. Ada Spiffy Laundry yang berada di gedung yang sama. Tinggal turun ke bawah, serahkan cucian, lalu kembali ke kamar.

Jadi, nggak ada lagi drama harus membawa satu keranjang penuh cucian keluar kos, mencari tempat laundry, atau menunggu sambil berdiri di pinggir jalan. Jarak yang dekat juga membuat urusan laundry terasa seperti bagian dari rutinitas harian, bukan pekerjaan besar yang harus ditunda sampai akhir minggu.

Jangan Tunggu Cucian Sampai Menggunung

Menunda cuci baju sesekali tentu bukan masalah besar. Yang bikin repot adalah ketika kebiasaan tersebut membuat pekerjaan sederhana berubah menjadi tugas besar.

Jadi, kalau hari ini kamu melihat keranjang cucian mulai penuh, mungkin bukan berarti kamu harus menjadi lebih rajin. Bisa jadi kamu hanya perlu membuat prosesnya lebih mudah.

Karena pada akhirnya, semakin sedikit hambatan untuk memulai, semakin kecil kemungkinan kita berkata, “Nanti aja.”

Proudly powered by WordPress