Kapan Sebaiknya Resign? Kenali 6 Tanda Berikut!

Pernah nggak, setiap Minggu malam kamu sudah mulai berpikir, “Besok kerja lagi…”?

Awalnya mungkin cuma merasa bosan. Lalu mulai sering menghitung hari menuju weekend. Lama-lama, buka laptop saja rasanya berat. Tapi di sisi lain, resign juga bukan keputusan kecil. Ada kebutuhan hidup, tabungan, cicilan, dan tentu saja pertanyaan: “Kalau aku keluar, memang sudah waktunya belum?”

Menariknya, keinginan pindah kerja ternyata bukan hal yang langka. Dalam riset Gallup 2025, 51% pekerja global sedang aktif mencari pekerjaan baru atau setidaknya memperhatikan peluang yang tersedia.

Jadi, kapan sebenarnya waktu yang tepat untuk resign?

Bukan Cuma Karena Lagi Capek

Satu hari yang buruk di kantor belum tentu berarti kamu harus mengajukan surat pengunduran diri.

Ada masa ketika pekerjaan memang terasa berat. Deadline menumpuk, proyek tidak berjalan sesuai rencana, atau kamu sedang menghadapi masalah dengan atasan. Hal-hal seperti ini bisa terjadi bahkan di pekerjaan yang sebenarnya kamu sukai.

Yang perlu diperhatikan adalah polanya.

Kalau rasa lelah, tidak puas, atau kehilangan motivasi sudah berlangsung cukup lama dan tidak kunjung membaik meskipun sudah mencoba mencari solusi, mungkin masalahnya bukan sekadar “lagi capek”.

1. Kamu Sudah Tidak Melihat Ruang untuk Berkembang

Coba bayangkan dirimu satu atau dua tahun ke depan.

Apakah kamu masih bisa belajar sesuatu yang baru? Ada peluang naik level? Bisa mengambil tanggung jawab yang lebih besar? Atau setiap hari hanya terasa seperti mengulang pekerjaan yang sama?

Stagnasi karier bisa menjadi salah satu alasan kuat untuk mulai mempertimbangkan peluang lain.

Gallup menemukan bahwa kesempatan untuk berkembang dan maju secara karier secara konsisten menjadi salah satu alasan utama seseorang mencari pekerjaan baru.

Kalau kamu sudah mencoba berdiskusi mengenai perkembangan karier, tetapi memang tidak ada jalur yang realistis, mungkin sudah waktunya untuk melihat pilihan di luar.

2. Pekerjaan Mulai Mengganggu Kehidupan di Luar Kantor

Kerja selesai jam 6, tapi pikiran masih tertinggal di kantor.

Weekend digunakan untuk mengejar pekerjaan. Waktu bersama keluarga atau teman berkurang. Bahkan ketika sedang libur, kamu tetap merasa bersalah karena belum memikirkan pekerjaan.

Ini bukan sekadar soal work-life balance.

Dalam survei Gallup 2025, keseimbangan kehidupan dan pekerjaan serta wellbeing menjadi faktor paling penting bagi pekerja ketika mempertimbangkan pekerjaan baru.

Kalau ritme kerja sudah membuat kehidupanmu terus-menerus terasa “tergeser”, kondisi tersebut layak dievaluasi.

3. Kamu Mulai Mengalami Burnout

Ada bedanya antara “hari ini capek” dan “aku sudah benar-benar habis.”

Menurut WHO, burnout berkaitan dengan stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola. Tiga karakteristik utamanya adalah kelelahan ekstrem, semakin jauh atau sinis terhadap pekerjaan, serta merasa efektivitas diri menurun.

Beberapa hal yang patut diperhatikan misalnya:

  • Energi terasa habis bahkan setelah istirahat.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Pekerjaan yang dulu disukai mulai terasa tidak berarti.
  • Semakin mudah merasa kesal atau sinis.
  • Produktivitas dan rasa percaya diri ikut menurun.

Burnout tidak otomatis berarti kamu harus resign. Bisa jadi yang dibutuhkan adalah cuti, perubahan beban kerja, dukungan atasan, atau perbaikan sistem kerja.

Tapi kalau sumber masalahnya memang tidak berubah, resign bisa menjadi salah satu opsi yang perlu dipertimbangkan.

4. Masalahnya Bukan Lagi “Susah”, Tapi Sudah Tidak Sehat

Setiap tempat kerja pasti punya masalah.

Namun, ada perbedaan antara lingkungan yang menantang dan lingkungan yang secara konsisten membuatmu merasa tidak aman, tidak dihargai, atau diperlakukan tidak adil.

Misalnya:

  • Komunikasi yang terus-menerus buruk.
  • Beban kerja yang tidak masuk akal.
  • Batas waktu dan ekspektasi yang selalu berubah.
  • Tidak adanya penghargaan terhadap kontribusi.
  • Perilaku yang merendahkan atau intimidatif.

Menariknya, Gallup menemukan bahwa 52% pekerja yang keluar sebenarnya merasa perusahaan atau manajernya masih bisa melakukan sesuatu untuk mencegah mereka pergi.

Artinya, sebelum benar-benar mengundurkan diri, komunikasi dan penyelesaian masalah tetap layak dicoba—selama situasinya aman untuk dilakukan.

5. Gaji Sudah Tidak Lagi Sejalan dengan Tanggung Jawab

Ini mungkin terdengar klise, tapi kompensasi memang menjadi salah satu pertimbangan terbesar ketika seseorang mencari pekerjaan baru.

Tanggung jawab bertambah, tetapi gaji tidak bergerak. Skill semakin berkembang, tetapi kompensasi tetap sama. Atau kamu menemukan bahwa nilai pasar untuk posisi serupa ternyata jauh berbeda.

Dalam data Gallup, pay and benefits menjadi faktor nomor satu bagi pekerja yang sedang mencari pekerjaan yang lebih baik.

Sebelum mengambil keputusan, coba lakukan riset kecil:

Apakah kompensasimu masih sesuai dengan tanggung jawab, pengalaman, dan kondisi pasar?

Kalau jawabannya tidak, kamu punya alasan yang lebih objektif untuk mulai mempertimbangkan opsi lain.

6. Kamu Bertahan Hanya Karena Takut Keluar

Ini bagian yang sering tidak disadari.

Kadang bukan karena pekerjaan sekarang masih cocok, tetapi karena kita takut dengan ketidakpastian setelah resign.

  • Takut tidak mendapat pekerjaan baru.
  • Menganggur.
  • Mengecewakan orang lain.
  • Takut dianggap tidak loyal.

Padahal, bertahan dan memilih untuk bertahan adalah dua hal yang berbeda.

Kalau satu-satunya alasan kamu masih berada di sana adalah karena takut mengambil langkah berikutnya, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali pilihanmu.

Baca juga: Cara Switch Career Tanpa Harus Mulai dari Nol!

Tapi Jangan Resign Secara Impulsif

Sudah yakin ingin keluar? Jangan langsung mengirim pesan:

“Pak/Bu, saya resign.”

Tarik napas dulu. 😭

Resign sebaiknya menjadi keputusan yang dipersiapkan, bukan pelarian dari emosi sesaat.

Sebelum mengajukan pengunduran diri, coba cek beberapa hal:

💰 1. Kondisi finansial

Pastikan kamu punya dana cadangan untuk melewati masa transisi. Semakin tidak pasti rencananya setelah resign, semakin penting memiliki financial buffer.

🔎 2. Sudah tahu mau ke mana?

Idealnya, kamu sudah mulai mencari pekerjaan, freelance, bisnis, atau jalur karier berikutnya.

Tidak harus langsung mendapat pekerjaan baru, tetapi setidaknya kamu punya gambaran langkah selanjutnya.

📄 3. Cek kontrak kerja

Perhatikan aturan mengenai notice period, hak dan kewajiban setelah pengunduran diri, serta ketentuan lain yang berlaku di perusahaanmu.

🧠 4. Pisahkan masalah dengan keputusan

Tanyakan pada diri sendiri:

“Kalau masalah terbesar di tempat kerja ini diperbaiki, apakah aku masih ingin pergi?”

Kalau jawabannya tetap iya, mungkin keputusanmu memang bukan sekadar karena sedang mengalami hari yang buruk.

Jadi, Kapan Sebaiknya Resign?

Tidak ada tanggal universal yang bisa menentukan kapan seseorang harus resign.

Waktu yang tepat biasanya muncul ketika alasan untuk pergi sudah lebih kuat daripada alasan untuk bertahan, dan kamu sudah punya persiapan untuk menghadapi langkah berikutnya.

Coba tanyakan lima hal ini kepada dirimu:

PertanyaanKalau Jawabannya “Iya”
Apakah aku sudah lama merasa tidak berkembang?🚩 Pertimbangkan peluang baru
Apakah pekerjaan terus mengganggu kehidupan pribadi?🚩 Evaluasi kondisi kerja
Apakah burnout terus berulang?🚩 Cari solusi dan dukungan
Apakah kompensasi tidak lagi sebanding?🚩 Riset market value
Apakah aku sudah punya rencana setelah resign?✅ Kamu lebih siap mengambil langkah

Pada akhirnya, resign bukan berarti gagal bertahan.

Kadang, justru dibutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa sebuah tempat sudah tidak lagi cocok dengan versi dirimu yang sekarang.

Dan kalau kamu sudah mulai memikirkan, “Kapan sebaiknya resign?”, mungkin pertanyaan berikutnya bukan hanya kapan harus pergi, tetapi juga:

“Setelah pergi, aku mau membangun karier seperti apa?”

Proudly powered by WordPress